Maria Pauline Lumowa Tak Seberapa, Apa Kabar 4 Pembobol Bank Lainnya Termasuk Eddy Tansil?

TRIBUNSTYLE.COM - Selain Maria Pauline Lumowa, ini 4 pembobol bank kelas kakap Indonesia, ada yang larikan Rp 9 Triliun hingga masih buron sampai sekarang.



Publik Tanah Air kini tengah dihebohkan dengan ekstradisi Maria Pauline Lumowa.

Tersangka kasus pembobolan Bank BNI itu akhirnya diekstradisi dari Serbia, Rabu (8/7/2020), setelah 17 tahun buron.

Maria terlibat dalam kasus pembobolan kas Bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun lewat letter of credit (L/C) fiktif yang berlangsung pada Oktober 2002 hingga Juli 2003.
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, berhasil kabur ke Singapura pada September 2003, dan sempat berada di Belanda pada 2009.



Kasus pembobolan bank Maria Pauline Lumowa bukanlah hal baru di Indonesia.
Terjadi beberapa kasus serupa dengan nominal yang tak kalah fantastis.

Bahkan masih ada pelaku yang berstatus buron hingga kini.

Penasaran siapa saja?

DIkutip dari Kontan.co.id, ini, ini 4 pembobol bank kelas kakap Indonesia selain Maria Pauline Lumowa.

1. David Nusa Wijaya (Ng Tjuen Wie)

David Nusa Wijaya (kanan) (Kontan)

David Nusa Wijaya alias Ng Tjuen Wie adalah Direktur Utama Bank Umum Servitia yang diduga melakukan korupsi senilai Rp 1,2 triliun.

Pria kelahiran Jakarta, 27 September 1961 itu menjabat sebagai Direktur Utama Bank Umum Servitia (BUS) pada tahun 1998-1999 dan merupakan terpidana dalam kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) BUS sejumlah Rp. 1,291 triliun.
Pada 11 Maret 2002, Pengadilan Negeri Jakarta Barat menghukumnya tiga tahun penjara.

Di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Jakarta pada 21 Mei 2002 memvonisnya dengan empat tahun penjara, disertai denda dan pembayaran uang pengganti.

Kemudian pada 23 Juli 2003, Mahkamah Agung memvonisnya hukuman penjara selama 8 tahun dan denda sebesar Rp 30 juta serta membayar uang pengganti sebesar Rp 1,291 triliun.
Namun David berhasil melarikan diri sebelum dieksekusi dan menjadi salah seorang 12 buronan kakap Indonesia yang berada di luar negeri.

Dalam sebuah operasi yang dilakukan Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat (FBI) pada 13 Januari 2006 di Amerika Serikat, ia berhasil ditangkap dan dikembalikan ke Indonesia empat hari kemudian.

2. Andrian Kiki Ariawan

Adrian Kiki Ariawan (Kontan)

Andrian Kiki Ariawan adalah Direktur Utama PT Bank Surya dengan nilai korupsi sebesar Rp 1,5 triliun.

Posisi kasus Andrian adalah sekitar tahun 1989 sampai dengan 1998, bertempat di Kantor PT. Bank Surya di Jl. Thamrin Kav. 9 Jakarta Pusat.

Bersama dengan terpidana Bambang Sutrisno, ia telah divonis merugikan keuangan negara dengan cara memberikan persetujuan kredit kepada 166 perusahaan yang dibentuk oleh dan atau dibawah kendali Bambang Sutrisno yang tidak melakukan kegiatan operasional/paper company.

Pada kasus ini, Andrian telah merugikan negara dengan total hampir Rp 2 triliun.

Pria kelahiran Jakarta, 28 April 1944 itu kemudian disidangkan secara In Absentia.
Namun ia tidak dapat dieksekusi saat putusan karena yang bersangkutan melarikan diri ke Australia.

Padahal kasus Andrian Kiki Ariawan sudah memiliki Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor : 71/Pid/2003/PT.DKI tanggal 2 Juni 2003 yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 

Akhirnya, pemerintah bisa mengekstradisi Andrian dari Australia ke Indonesia. 
Penyerahan Adrian dari Pemerintah Australia kepada Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Escorting Officers pada 22 Januari 2014, bertempat di dalam Pesawat Garuda. 

Dalam perjalanan dari Perth, Australia ke Indonesia, Adrian dikawal oleh Escorting Officers yaitu AKBP Dadang Sutrasno dan AKBP Jajang Ruhyat, yang keduanya adalah perwira NCB INTERPOL Indonesia.

3. Eko Adi Putranto

Eko Adi Putranto (Kontan)
Eko Adi Putranto adalah Komisaris Bank BHS dengan nilai korupsi mencapai Rp 2,659 triliun.

Pria kelahiran Jakarta, 9 Maret 1967 itu terlibat dalam korupsi BLBI Bank BHS.

Modus yang dipakai dalam kejahatan korupsi Eko adalah pemberian kredit kepada perusahaan group. 

Selain itu, ia juga memberikan persetujuan untuk memberikan kredit kepada 28 lembaga pembiayaan yang ternyata merupakan rekayasa alias bodong.

Eko disidangkan secara In Absentia dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 20 tahun penjara sesuai putusan pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor : 125/PID/2002/PT. DKI tanggal 8 November 2002.

Namun terpidana melarikan diri ke Singapura dan Australia dan belum tertangkap hingga kini.

4. Eddy Tansil (Tan Tjoe Hong)


Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong adalah taipan pemilik Golden Key Group.

Nilai Korupsi Eddy pada masa pemerintahan Presiden Soeharto ini mencapai kurang lebih Rp 9 triliun dengan kurs saat ini.

Pria yang lahir di Makassar, 2 Februari 1953 itu terbukti menggelapkan uang sebesar 565 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 1,5 triliun rupiah dengan kurs saat itu yang didapatkan melalui kredit Bank Bapindo kepada grup perusahaan Golden Key Group.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum Eddydengan vonis 20 tahun penjara, denda Rp 30 juta, membayar uang pengganti Rp 500 miliar, serta membayar kerugian negara Rp 1,3 triliun. 

Ditempatkan di sel dengan pengawasan khusus, Eddy justru melarikan diri dari penjara Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, pada tanggal 4 Mei 1996.

Sekitar 20-an petugas penjara Cipinang diperiksa atas dasar kecurigaan bahwa mereka membantu Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong untuk melarikan diri. 

Sebuah LSM pengawas anti-korupsi, Gempita, kemudian memberitakan pada tahun 1999 bahwa Eddy ternyata tengah menjalankan bisnis pabrik bir di bawah lisensi perusahaan bir Jerman, Becks Beer Company, di kota Pu Tian, di provinsi Fujian, China.

Pada tanggal 29 Oktober 2007, sebuah tim gabungan dari Kejaksaan Agung, Departemen Hukum dan HAM, dan Polri, telah menyatakan bahwa mereka akan segera memburu Eddy. 

Keputusan ini terutama didasari adanya bukti dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) bahwa buronan tersebut melakukan transfer uang ke Indonesia satu tahun sebelumnya. 

Pada akhir 2013, Kejaksaan Agung mengungkapkan bahwa Eddy telah terlacak keberadaannya di China sejak tahun 2011 dan permohonan ekstradisi telah diajukan kepada pemerintah China. Hanya saja hingga saat ini belum ada hasilnya.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Maria Pauline Lumowa Tak Seberapa, Apa Kabar 4 Pembobol Bank Lainnya Termasuk Eddy Tansil?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel